Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara Tetap Relevan

FOTO : Hatta Rajasa, ketika menyampaikan orasinya di forum Rakernas PTM se Indonesia di UNMUHSurabaya.

_____________________________

Surabaya, 30 Mei 2011 – Kontrak kerja antara perusahaan asing dengan Indonesia di berbagai bidang      sudah berlangsung bertahun-tahun   disepakati. Sekarang ini  tinggal melanjutkannya, namun Indonesia tidak boleh tinggal diam  harus berupaya agar kontrak kerja tersebut ditinjau kembali, supaya saling menguntungkan. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Ir. Hatta Rajasa, ketika menjawab pertanyaan beberapa mahasiswa dari berbagai PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya(30 Mei 2011), dalam acara Rakernas BEM PTM se Indonesia. “ Saya ini jadi Menteri baru sekitar satu setengah tahun, kontrak itu sudah bertahun-tahun berlangsung. Dan kini saya yang kebagian membenahinya, namun kita tidak boleh menyalahkan para tokoh yang membuat kontrak dulu, mari kita benahi supaya kontrak kerja  dengan pihak asing tersebut bisa kita tinjau kembali dan sharing keuntungan bisa kita tata ulang,” ujar Ketua Umum PAN ini.

Di bagian lain Hatta Rajasa menyoroti berbagai hal yang mendasar tentang ideologi bangsa yang akhir-akhir ini mejadi perbincangan yang cukup hangat di berbagai acara diskusi. Bertolak dari  tema yang diusung dalam Rakernas PTM tersebut yakni “Membangun Gerakan dalam Meneguhkan Kembali Komitmen Demokrasi Ke-Indonesiaan”, Hatta Rajasa mengungkapkan bahwa dalam meneguhkan kembali komitmen demokrasi seakan- akan ada kegelisahan sehingga ada kata-kata meneguhkan kembali, sepertinya  tidak teguh  terhadap komitmen kepada demokrasi. “Saya melihat tema ini tidak  lain karena  adanya  kegelisan dan sekaligus kecintaan kepada masa depan bangsa dan negara  yang kita cintai ini,” ungkap Hatta.

Menurut Hatta, kita semua patut untuk optimis bahwa kegelisahan merupakan bagian dari upaya kita untuk menjawab  berbagai tantangan.

Belakangan ini kita dihadapkan pada perbincangan yang sangat hangat dan mendasar mengenai hal yang menjadi pilar kebangsaan kita. Empat pilar kebangsaan kita yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, tetap relevan sepanjang masa, karena empat pilar tersebut merupakan hal yang mendasar dan berakar pada budaya asli Indonesia.

 “Kita juga prihatin adanya gerakan yang dinamakan NII yang cukup meresahkan masyarakat, maupun kelompok masyarakat yang ingin memaksakan kehendak  dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” tambah mantan Sekjen PAN ini.

Diskusi panjang yang memakan waktu sekitar dua jam ini dipandu langsung oleh Rektor UNMUHSurabaya, Prof. Dr. Zainuddin Maliki, MSi.  (wm-01)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s