Politikus Busuk Dan Pembusukan Politik *)

Oleh : Iwan Sulistyo **)

Politik sesungguhnya merupakan suatu seni untuk meraih kekuasaan dengan cara yang konstitusional. Akan tetapi, realitasnya, jauh berbeda.

Zainuddin Maliki, di dalam bukunya “Politikus Busuk: Fenomena Insensibilitas Moral Elite Politik” (Galang Press, 2004), mengurai dengan sangat menarik ihwal hal ini. Intinya, politikus kita bersifat miskin hati dan rakus kekuasaan. Mereka berlarian mengejar kekuasaan dengan berbagai cara: memalsukan ijazah, menuakan umur, money politics, bersekongkol menelurkan undang-undang, dan bahkan mereka berkoalisi diam-diam untuk menciptakan ketidakpastian. Telah terjadi suatu apa yang disebut sebagai political decay (pembusukan politik), yang ditandai dengan penyebaran politikus busuk dan premanisme politik.

Prof Ahmad Syafii Ma’arif di dalam pengantarnya menyebutkan bahwa kekuatan kontrol di tengah-tengah kehidupan bangsa masih sangat lemah. Akibatnya, politik lepas kontrol dan berbagai kebijakan politik (berdasarkan kepentingan jangka pendek) berkembang atas dasar syahwat para elitenya.

Nah, justru itu, kita harus ekstra-cermat dalam menonton berbagai atraksi dan manuver yang tengah dipertontonkan oleh para politikus menjelang Pemilu 2009 mendatang. Tujuan mereka jelas, yakni menawarkan sebuah solusi pemecahan masalah bangsa. Atas dasar itu, mereka mehipnotis rakyat untuk menyoblos nomor urut/gambar mereka di bilik suara. Sebab, satu suara yang diberikan kepada mereka, akan sangat berarti bagi menang atau kalahnya sang calon di gelanggang pemilihan.

Alih-alih memberikan tawaran, setelah duduk dan mendapatkan penghasilan lebih dari cukup (berikut kekuasaan), loyalitas justru beralih kepada kelompok dan parpol pendukung, bukan kepada konstituen. Padahal, loyalitas kepada konstituen adalah mutlak mengingat dari konstituenlah suara dan mandat diperoleh.

Kita juga layak meneropong dengan seksama, mana saja figur yang telah sering duduk dikekuasaan, tetapi tidak membawa perubahan mendasar bagi perbaikan nasib sebagian besar konstituen (masyarakat pemilihnya). Namun, bagi figur yang benar-benar menyuarakan kepentingan rakyat, tidak ada salahnya kita berikan mandat untuk beberapa kali.

Saya sendiri harus mengakhiri tulisan ini karena saya hendak memeriksa dulu apakah di sekitar saya ada politikus busuk yang maju di Pemilu 2009 kelak. Saya sudah menengarai beberapa nama dan kelompoknya. Namun, saya enggan menyebutkan. Rasanya kurang santun. Maklum, Senin besok sudah puasa. Saya sarankan anda juga memeriksa di sekitar anda, jangan-jangan juga ada politikus busuk. Tidak ada cara lain, membuat politikus busuk tidak kembali lagi bercokol di gelanggang kekuasaan adalah dengan jalan tidak memberikan suara kepada mereka pada pemilu 2009 mendatang.

*) Dimuat dalam Kolom Suara Mahasiswa, Seputar Indonesia, Jumat, 29 Agts 2008 )

**) Iwan Sulistyo, Mahasiswa Departemen Kriminologi FISIP UI

Satu Balasan ke

  1. Gepy Misatri Putra berkata:

    Sepakat dengan pemikiran saudara.para politisi meninggalakan satu poin yg penting yakni pengabdian.saya menulis pemikiran saya tentang ketika politik di jadikan karir

    Ketika Politik Dijadikan Karir .
    Ketika politik menuju karir, maka capaian yang diinginkan adalah capaian yang sifatnya pribadi, karena pada dasarnya tidak ada karir yang bersangkutan dengan kepentingan orang yang banyak. Karir lebih penting dari kepentingan orang banyak. Seseorang yang memosisikan politik sebagai karir tidak ubahnya dengan gambaran pemuda yang mengejar semua kepentinganya di bawah pengaruh emosi-emosinya pengetahuan tidak akan bermanfaat bagi orang seperti ini atau siapa pun yang lemah secara moral.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s