PENDIDIKAN YANG MEMASUNG *)

 Oleh : Syahrudin Darwis **)
Salah satu persoalan yg mendasar saat ini adalah terlepasnya dunia Pendidikan dari realitas sosial yang seharusnya menjadi persoalan inheren yg mengakar dan membudaya dlm ranah dunia pendidikan kita.Imbas yg muncul adalah lahirnya output Pendidikan kita yg dinilai berjiwa kerdil, kurang responsif, mau menang sendiri, keras kepala serta kehilangan sifat-sifat kemanusiaan yg lain.
Saat ini dunia Pendidikan Kita dgn meminjam istilah Paulo Freire, masih dijangkiti sifat Nekrofilis (cinta kematian), dan bukannya menumbuhkan sifat Biofilis (cinta kehidupan).Dimana didalam proses pendidikan di Sekolah tidak lagi menampilkan semangat pembebasan siswa didik dari ketidak berdayaan, tetapi justru menjadi ruang untuk membelenggu kreativitas & kebebasan sehingga gagal melahirkan manusia-manusia yg cerdas, kritis, kreatif, juju, berkarakter, demokratis dan responsif.
Dunia Pendidikan kita khususnya di Sekolah telah terpasung dalam ruang hafalan Teori2 dan Rumus, yg tidak “membumi”, tidak ada upaya serius untuk membawa para siswa didik kedlm realitas sosial. Pendidikan menjadi tercerabut dari problem riil yg seharusnya mereka jawab & selesaikan.Sistem pendidikan seperti ini diibaratkan sebagai Banking education, yaitu suatu model pendidikan yg tdk kritis, karena hanya diarahkan untuk domistifikasi, penjinakan dan penyesuaian realitas sosial dgn keadaan penindasan.
Yang sangat memprihatikan siswa didik kian kehilangan sentuhan problem riil yg dihadapi bangsa, negara dan masyarakatnya terutama menjelang atau menghadapi UN dan UAS.Siswa digiring kedalam ruang karantina untuk “dicekoki” berbagai sal yg diperkirakan akan muncul dlm ujian.
Siswa didik diperlakukan bagaikan “Keranjang sampah” yg harus menampung semua tumpahan hafalan Teori & Rumus dari Guru.
Gurupun terpaksa berbuat demnikian karena tdk sanggup melepaskan diri dari “Tekanan” Kepala Sekolah demi menjaga Citra & Gengsi Sekolah.Karena keberhasilan Guru hanya diukur berdasarkan kemampuannya Mentransfer Pengetahuan (Transfers of Knowladge) yg dimiliki kpda siswa didiknya dlm menghadapi ujian.
Guru yg idealis mengoftimalkan diri mengajak siswa didiknya melakukan curah pikir dan berinteraksi secara terbuka sehingga mampu mengindentifikasikan & menganalisis berbagai persoalan sosial dan kebangsaan secara bebas & kritis justru tdk memndapatkan ruang.
Sistem ini akan menghambat keberhasilan siswa dalam menghadapi soal-soal ujian
Dengan kondisi demikian , sulit bagi Sekolah untuk mampu melahirkan manusia-manusia yg cerdas,kritis dan responsif.
Lalu apa yg dapat kita harapkan dari sistem yg demikian, kita berharap sistem Pendidikan kita khususnya Sekolah dapat menjadi alat pembebasan yg sanggup menciptakan ruang bagi siswa didik anak bangsa untuk mengidentifikasi & menganalisis secara bebas dan kritis terhadap berbagai persoalan dilingkungannya.
Dan kita berharap kelak mereka menjadi pribadi yg mampu mengartikulasikan proses transformasi sosial secara arif, matang terbebas dariPerilaku Instan, korup, hipokrit,keras kepala dan mau menang sendiri. ($)
*) Untuk Wawasan Mahasiswa MediAONLinE
**) Fungsionaris DPP PAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s