Mall  dan Cafe Pusat Hedonis yang Dikemas Praktis oleh Kaum KapitaLis  *)

 Oleh : Ari Kurniawan **)

Mall merupakan tempat nongkrong anak gaul alias ABG (anak baru gedhe). Di sinilah lokasi berkumpulnya dunia konsumeris dan hedonis. Segala macam produk masa kini telah hadir dalam gedung yang berukuran cukup luas ini. Mall akan menghadirkan segala mimpi – mimpi anak muda yang sebenarnya jauh dari realitas yang nyata.

Arti Mall menurut “Google”, memiliki arti tempat yang luas dalam satu bangunan yang terdiri dari berbagai macam toko, baik supermarket, game online / timezone, toko buku, toko kaset, toko pakaian, kantin / cafe untuk nongkrong, toko ATK (alat tulis kantor), dan konter – konter elektronik (HP, tape, TV, DVD dll). Biasanya didukung pula oleh satu atau lebih departement store yang dikeliling oleh tempat parkir.

Lalu apa kaitannya dengan cafe sebagaimana yang ditulis dalam judul tulisan ini. Cafe semacam warung makan yang tempat dan tatanannya dikemas dengan sedemikian menarik dan unik. Ada yang lesehan, tetapi ada pula yang duduk. Tempat duduknya pun dibuat dengan indah. Suasananya sejuk, terkadang lampunya sedikit dibikin remang – remang, biar terkesan romantis.

Menu makanan dan minumannya cukup beragam, bahkan ada juga yang aneh – aneh. Singkong pun bisa dibuat dengan bermacam rasa dan bentuk. Begitu pula yang terjadi di segala jenis makanan lainnya. Para pelayannya ramah – ramah, cantik, dan sopan. Tentu harganya bermacam – macam, dari yang murah hingga yang mahal. Itulah cafe.

Mall dan cafe sama – sama sebagai pusat untuk ber-konsumeris dan ber-hedonis. Seolah tidak terasa kalau pengunjung telah mengeluarkan uang puluhan ribu bahkan ratusan ribu.   Inilah bentuk modern yang menghadirkan produk – produk hedonis yang dikemas praktis. Seolah jika seseorang datang ke tempat seperti ini, gengsinya akan naik dibandingkan dengan makan di emperan jalan.

Memang ada beberapa keuntungan jika berkunjung ke mall dan cafe. Dua tempat ini bisa membuat pengunjung seolah – olah dalam suasana refreshing, pikiran menjadi serba fun, bisa juga cuci mata, sebagai lokasi hiburan, pelepas beban, dan sedikit olah raga. Karena dengan berjalan dari satu lantai ke lantai selanjutnya bisa membakar banyak kalori dalam tubuh kita. Belum lagi keliling di satu lantai yang cukup luas. Itung – itung sedikit diet bagi yang gemuk dan yang jarang olah raga. Solusi praktis kan?

Namun perlu diingat, dengan sering datang ke mall dan cafe dapat membuat   ketagihan. Dengan datang ke sana, bisa kecanduan untuk selalu membeli barang – barang yang awalnya tidak diinginkan. Karena barang itu menarik, akhirnya ikut-kutan juga membelinya dengan menimbang – nimbang sesuai nggak dengan kocek.

Terkadang, kalau pun kita tidak membawa uang, ATM di mall sudah tersedia sehingga   mudah untuk mengambil uang di ATM. Dengan mendatangi tempat – tempat semacam itu tentu membuat harga diri   menjadi naik dan serasa telah berada di atas, walaupun habis itu kembali lagi berada di bawah. Sangat menyedihkan, hanya mendapatkan kenikmatan sesaat tapi kesengsaraan yang berkepanjangan.

Perlu diingat, baik mall maupun cafe, akan menguras dompet dan tabungan. Jadi, harus hati-hati dengan ”hantu modern” jenis ini.

Bagi anak muda, mall dan cafe dapat menguras uang. Iya kalau uangnya hasil kerja sendiri, kalau ternyata dari mencuri uang orang tua gimana? Sungguh kasihan sekali. Untuk mendapatkan kesenangan saja, mereka harus berusaha dengan jalan kriminal. Hasil kriminal itu tidak lain hanya untuk mendatangi tempat – tempat yang mirip surga. Surga kapitalis.

Lebih lanjut, pembahasan ini akan mengkaji tentang mall dan kaitannya dengan keberadaan pasar – pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan pusat perekonomian yang dianggap sebagai mata pencaharian masyarakat kelas menengah ke bawah. Dengan adanya pasar tradisional, proses pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar berjalan dengan baik.

Namun bagaimana nasibnya ketika mall dan pusat – pusat perbelanjaan modern hadir di tengah – tengah mereka ?

Seorang pedagang di Pacarkeling bercerita bahwa sekarang ini jumlah pembeli sangat berkurang, harga bersaing ketat, pedagang hanya bisa mengambil untung tipis asal barang bisa terjual. Pedagang lainnya di Pasar Kembang mengeluh karena hampir seharian hanya satu dua orang yang mengunjungi kiosnya. Suasana sepi pembeli ini juga terjadi di Pasar Kupang, Pasar Pabean, Pasar Wonokromo dan pasar – pasar tradisional lainnya.

Sebuah liputan media elektronik bahkan memberitakan bahwa pasar modern telah mematikan pasar tradisional, dan itu telah terjadi di banyak kota yang pemerintahnya memberi kemudahan bagi menjamurnya pasar modern, sehingga omset pasar tradisional jatuh.

Dari kisah – kisah di atas, dapat diketahui bahwa pasar memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat bawah. Karena di pasarlah perputaran ekonomi bisa terjadi. Di sini uang beredar di banyak tangan, tertuju dan tersimpan di banyak saku. Rantai perpindahannya lebih panjang, sehingga kelipatan perputaran yang panjang itu berdampak pada pergerakan perekonomian bagi kota dan daerah.

Berbeda dengan pasar modern besar (baca: mall), semua uang yang dibelanjakan tersedot hanya pada segelintir penerima yang disebut dengan kasir. Efeknya bagi perputaran ekonomi lebih pendek. Karena itu, sesungguhnya tidak terlalu membawa dampak pada perputaran sektor lain di luar dirinya.

Teori ini merupakan teori ekonomi makro sederhana, dimana bila uang di satu daerah rantai perpindahannya lebih panjang, maka uang tersebut akan mampu membawa perputaran ekonomi lebih tinggi bagi daerah tersebut. Sebaliknya bila rantai perputarannya pendek, maka tidak akan banyak memberi dampak kemajuan ekonomi (www.walhikalsel.org).

Selain itu, keberadaan mall sangat terkait dengan kebijakan pemerintah setempat, baik daerah maupun kota. Sebenarnya pemerintah setempat sudah mengkaji tentang mall, tetapi mereka tidak melihat pada dampak mall terhadap pasar tradisional melainkan lebih melihat pada keuntungan pendapatan daerah yang bersumber dari pajak tanah dan bangunan, pembagian retribusi parkir khusus, pajak – pajak restoran, pajak pendapatan, pajak reklame, dan jenis pembagian pendapatan lainnya. Jika semuanya dijumlahkan, maka akan sangat untung besar bagi kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Inilah yang disebut oleh Cak Nur sebagai pola pikir pragmatis yang bersumber dari ideologi developmentalis. Sebuah ideologi yang menganggap bahwa mall sebagai tujuan dari kemajuan pembangunan. Bagi mereka yang menolak kemajuan dianggap kolot, bahkan di era Orde Baru disebut sebagai anti – pembangunan.

Memang, dengan adanya mall, para pengangguran menjadi memiliki pekerjaan walaupun mereka selalu bekerja di bawah tekanan atas dalih mengejar omset. Jika meminjam istilah Marx, dengan adanya para pekerja tersebut mall telah melahirkan ketimpangan sosial antara pemilik modal dan pekerja keras alias bawahan. Para pekerja itu dituntut bekerja keras tanpa henti seperti robot. Sebenarnya mereka tidak mau bekerja, tapi apalah daya daripada tidak bisa hidup. Karena satu – satunya penghasilan mereka hanya dari pekerjaan tersebut.

Kita tidak tahu, di balik bangunan mall yang megah, dihiasi parfum ala Prancis, pakaian ala Amerika, dan makanan berkelas Eropa, tersimpan kepedihan dari para pekerja keras yang sebenarnya mereka tidak mencicipi hidangan yang disajikan mall tersebut. Iya kalau mereka bekerja di sana terus. Bagaimana kalau tiba – tiba mereka dipecat dengan alasan agar beban pekerja tidak terlalu berat. Akan ke manakah mereka mencari penghidupan. Apakah kesadaran kita sudah sampai ke sana atau malah sudah tau tapi tetap cuek ?

Di sinilah letak sikap kritis, yang harus kita terapkan ketika melihat ketimpangan sosial yang telah diciptakan oleh mall. Tentunya, kritik juga diberikan kepada pemerintah daerah / kota, agar pasar tradisional diperhatikan kebersihan dan keindahannya, sehingga para pengunjung tidak pusing dan jijik dengan pasar tradisional tetapi termanjakan untuk selalu datang. (*)

*) Untuk MasWasis.com

**) Mahasiswa FAI UMSurabaya

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s