SBY-nomic dan Single Global Currency

Oleh Misriadi

Kamis, 18 Desember 2008
Dalam orasi ilmiah di depan civitas akademika Institut Pertanian Bogor (IPB) awal November lalu, Presiden Yudhoyono memaparkan 9 (sembilan) strategi pembangunan ekonomi Indonesia ke depan. Orang pun kemudian lebih senang menamainya sebagai SBY-nomic. Kesembilan strategi tersebut, antara lain, pertama, resource, knowledge, cultural based economy. Kedua, ekonomi Indonesia harus sustainable. Ketiga, pertumbuhan disertai pemerataan (SBY tidak percaya pada trickle down effect.
SBY berkesimpulan bahwa tatanan ekonomi dunia harus diperbaiki agar lebih aman, stabil, adil bagi semua bangsa. Akar penyebab krisis diantaranya terjadinya ketimpangan antara negara-negara maju dengan negara-negara miskin, baik dari aspek sumberdaya alam, teknologi. SBY juga menyinggung betapa besarnya peran multi national corporations (MNCs) dalam memetakan ekonomi dunia. Bahkan, peran lembaga dunia seperti IMF, WTO dan Bank Dunia perlu ditinjau kembali, mengingat adanya berbagai indikasi bahwa keberadaan lembaga tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Menanggapi krisis keuangan global saat ini, SBY melontarkan gagasan perlunya single global currency (SGC).
SBY memang belum merinci wacana SGC yang dilontarkannya. Tetapi ia menyebut latar belakang, kalau SGC diberlakukan, maka stabilitas ekonomi akan terjadi karena tidak akan ada lagi ada penguangan dengan uang, dan fungsi uang berubah dari sebagai alat tukar. Presiden tidak memaparkan apa yang dia maksud dengan SGC. Seandainya yang dimaksud adalah regional currency unit seperti euro saat ini, tentu ini bukan hal baru, dan juga realitis untuk diterapkan, walau belum tentu realistis untuk Indonesia.
Mantan presiden Habibie pun pernah mengusulkan perlunya asian currency unit, meski tidak mendapat banyak tanggapan antusias. Apabila yang dimaksud SBY adalah one single global currency (satu mata uang yang berlaku secara global), maka sesungguhnya setelah Perang Dunia II, sistem yang mirip dengan SGC juga diterapkan, yaitu sistem Bretton Woods, yang mana dolar AS sebagai satu-satunya mata uang kuat dunia yang diterima sebagai alat tukar dunia.
Dengan sistem ini, AS justru merasa terpenjara karena menjadi satu-satunya negara yang tidak boleh melakukan depresiasi mata uangnya. Akhirnya sistem itu ambruk juga di tahun 1970-an. Sistem moneter yang dirancang di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat pada tanggal 1-22 Juli 1944 tersebut pada intinya memang ingin menjaga stabilitas moneter global dengan menciptakan Sistem Nilai Tukar Tetap.
Sistem moneter internasional pasca-Bretton Woods diawali oleh ketidak pastian yang besar. Gejolak terus terjadi. Cyrillus Harinowo (2007) menyajikan 8 (delapan) rangkaian gejolak dimaksud.
Pertama adalah terjadinya proses pengambangan antar mata uang antar negara utama. Dalam tahapan berikutnya, sebagian negara mulai mengaitkan mata uang mereka pada mata uang yang mereka anggap cukup kuat. Yaitu dolar AS, French Franc (terutama oleh Francophone Africa), Pound Sterling dijadikan acuan oleh Anglophone Africa dan banyak negara lain dan sebagainya. Dari sisi institusi, perkembangan ini diperkuat oleh apa yang disebut dengan Jamaica Agreement di tahun 1976.
Dalam proses tersebut, yang tampak mengerucut adalah proses integrasi mata uang di Eropa. Ini mudah untuk dimengerti. Sebab, dengan mata uang yang berbeda-beda, maka perjalanan barang antara Antwerpen di Belgia, misalnya, menuju Dusseldorf, di Jerman, yang jaraknya tidak lebih dari Jakarta Semarang, terpaksa melewati dua pintu bea cukai dan tiga mata uang.
Kedua, yang cukup besar adalah kebijakan moneter ketat yang dilaksanakan oleh Gubernur Bank Sentral AS Paul Volcker. Dia mempunyai obsesi untuk mengatasi inflasi yang mencapai double digit di negaranya dengan melakukan kebijakan moneter yang sangat ketat. Suku bunga di Amerika Serikat dinaikkannya secara agresif, sehingga pada akhirnya mencapai tingkat lebih dari 20 persen di awal tahun 1980 -an. Kebijakan tersebut membawa dampak yang sistemik karena besarnya eksposur hutang dalam dolar AS yang dialami oleh negara-negara Amerika Latin.
Ketiga, gejolak tidak terjadi di negara-negara berkembang, tetapi justru terjadi di negara maju, yaitu di Eropa Barat pada tahun 1992. Gejolak moneter tersebut diawali oleh proses pembangunan Jerman Timur secara besar-besaran setelah selesainya proses Unifikasi negara tersebut dengan Jerman Barat. Investasi yang sangat besar dibiayai defisit yang mencapai 13 persen dari PDB.
Keadaan ini menimbulkan inflasi yang menyebabkan Bundesbank harus menaikkan suku bunga secara agresif sehingga hampir mencapai 10 persen. Dalam sistem moneter yang nilai tukarnya terkait satu sama lain, maka kenaikan suku bunga di Jerman (padahal dengan nilai tukar-antar negara yang tetap) menyebabkan terjadinya aliran modal yang besar dari banyak negara ke Jerman. Keadaan ini menyebabkan perekonomian banyak negara menjadi amburadul.
Keempat, gejolak terjadi di Meksiko di tahun 1994-1995 yang dikenal sebagai tequila crisis. Gejolak moneter tersebut menimbulkan contagion effect yang besar ke berbagai negara di seluruh dunia. Untungnya, pemerintahan Presiden Clinton, dibantu oleh Robert Rubin dan Lawrence Summer, berhasil mengatasi permasalahan tersebut secara cepat sehingga akhirnya krisisnya dapat segera diatasi. Krisis tersebut membuktikan bahwa permasalahan yang muncul pada suatu negara bukan tidak mungkin menimbulkan gejolak sistemik antar-negara.
Kelima, gejolak telah meninggalkan luka yang dalam kepada kita semua. Gejolak tersebut terjadi di Asia yang dimulai dengan serangan kepada mata uang Thailand (Baht), namun kemudian menjalar kemana-mana. Krisis tersebut akhirnya memporak-porandakan Indonesia, Korea, selain Thailand, namun juga Turki dan Rusia, serta beberapa negara Amerika Latin terutama Brazil, Argentina dan Uruguay.
Berbagai gejolak moneter yang terjadi selama periode pasca-Bretton Woods itu menandakan bahwa saat ini dunia memang membutuhkan one single global currency sebagaimana ditandaskan SBY.*** (from Suara Karya)
Alumnus National UniversityFilipina,
direktur Eksekutif Lembaga Studi Harmoni Bogor.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s